Jangan memusuhi plastik

Di tengah gerakan berbagai anti pemakaian bahan plastik, saya tetap bertanya-tanya seberapa jauh kita bisa menghindari menggunakan plastik. Plastik tempat sampah adalah salah satu yang saya sering gunakan di rumah. Belum lagi kemasan plastik dari bungkus makanan dan minuman, hasil belanja di pasar atau toko, bungkus paket dari pedagang daring, dan lain-lain.

Ucapan “Jangan memusuhi plastik’ dari Profesor Enri Damanhuri , Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah, Institut Teknologi Bandung, dalam diskusi Plastic Reborn #BeraniMengubah yang diselenggarakan Coca-cola Indonesia pertengahan Juni 2019 lalu sedikit menjawab pertanyaan saya. “Faktor utama sampah tentu berasal dari perilaku masyarakat yang semakin konsumtif. Minimnya kesadaran dan pola pikir juga turut andil, hal ini bisa dicegah dengan memilah dan mengumpulkan sampah plastik dalam satu tempat. Selain itu diperlukan kerjasama dari pihak produsen, pengumpul sampah plastik (collector) sampai konsumen untuk berperan aktif dalam mendorong masyarakat berperilaku lebih bijaksana dalam penanganan sampahnya, melalui edukasi dan penegakan peraturan yang konsisten,” menurut beliau.

Beliau menambahkan, “permasalahan sampah memang merupakan tugas dari seluruh pihak. Namun, penanganannya dapat dimulai dari individu masing-masing. Artinya semua orang Indonesia harus dapat mengelola sampahnya di sumber mereka sendiri, di rumah, sekolah atau kantor.”

Untuk tujuan menanggulangi sampah plastik maka Coca Cola membuat sebuah inisiatif peduli lingkungan bernama “Plastic Reborn #BeraniMengubah” untuk berkontribusi dalam mengatasi sampah plastik di dalam kehidupan sehari-hari. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk turut aktif dalam mengatasi permasalahan sampah plastik di Indonesia.

Gerakan Plastic Reborn #BeraniMengubah menghadirkan rangkaian kegiatan edukasi dan diskusi bersama para pakar, yang bertujuan untuk menambah wawasan peserta mengenai kemasan plastik, diskusi penanganan dan manajemen sampah plastik dengan konsep circular economy. Kegiatan edukasi ini juga diisi dengan kegiatan lokakarya kreatif dan edukatif yaitu daur ulang sampah botol plastik menjadi barang yang memiliki nilai baru bersama peserta.

Jika dilihat dari sudut pandang industri, plastik merupakan bahan baku sehingga ada nilai ekonomi di dalamnya, sehingga memiliki nilai manfaat ekonomi tidak hanya untuk industri tetapi juga untuk masyarakat.

Gunawan Mangunsukarjo, Regional Technical Director Coca-Cola Indonesia, menyampaikan “Plastik merupakan inovasi luar biasa yang bersifat fleksibel, affordable dan tahan lama, karenanya penggunaan plastik dalam berbagai bentuk telah menjadi bagian tak terhindarkan dari kehidupan masyarakat modern.”

Sementara itu Triyono Prijosoesilo, Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia, menjelaskan “Coca-cola Indonesia menegaskan komitmen perusahaan untuk turut aktif mengatasi permasalahan plastik di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan komitmen The Coca-Cola Company yaitu World Without Waste. Visi perusahaan untuk mewujudkan World Without Waste dimulai dengan membangun pemahaman bahwa kemasan makanan dan minuman adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat modern, namun juga tidak melupakan bahwa masih banyak yang perlu dilakukan untuk mengurangi sampah kemasan secara global.”

Coca-Cola bersama-sama dengan mitra pembotolan perusahaan memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:

“Investing in the Planet” (investasi untuk Bumi): Setiap botol atau kaleng yang terjual oleh Coca-Cola dan mitranya (Coca-Cola system) secara global, kami bertujuan untuk membantu mengumpulkannya kembali agar kemasan tersebut dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki masa hidup lebih dari satu kali. Melalui 3 pilar World Without Waste, Design-Collect-Partner, Coca-cola memiliki komitmen tinggi untuk melakukan pengumpulan (botol plastik) dan mendaur ulang setiap botol plastik yang terjual dan dikonsumsi oleh masyarakat di tahun 2030.

“Investing in Packaging” (Investasi pada kemasan): The Coca Cola Company mendukung konsep circular economy melalui investasi multi-tahun dan jutaan dolar yang mencakup kerja berkelanjutan untuk membuat seluruh kemasan produk Coca-Cola 100% dapat didaur ulang pada tahun 2025. Termasuk, menyertakan 50% konten daur ulang di seluruh kemasan pada tahun 2030.

Di acara tersebut hadir juga Iqbal Alexander, Pendiri Komunitas Kertabumi Klinik Sampah. Komunitas ini mengkaryakan para ibu rumah tangga, pemuda putus sekolah, dan siapa saja untuk membuat karya daur ulang sampah plastik bekas kemasan. Berbagai produk cantik telah mereka buat antara lain tas, dompet, asbak, dan lain-lain.

Mengurangi sampah secara global adalah hal besar. Namun bila kita mulai dari diri kita sendiri kemudian menyebar ke satu orang lain dan seterusnya, saya yakin setidaknya ada perubahan kecil yang berarti. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit 🙂

Untuk informasi lebih jauh mengenai Plastic Reborn dan Komunitas Kertabumi, silakan mampir ke:
1. Plastic Reborn https://www.instagram.com/plasticreborn/
2. Komunitas Kertabumi https://www.instagram.com/kertabumikliniksampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s